Van Deventer-Maas Stichting

Meskipun Yayasan Van Deventer-Maas didirikan pada tahun 1947, untuk memahami sejarahnya, kita perlu menengok kembali ke tahun 1880. Saat itu, Conrad T. ('Coen') van Deventer muda baru saja lulus dari Fakultas Hukum Universitas Leiden. Bersama istrinya Elisabeth M. (Betsy) Maas, mereka pergi menuju Indonesia (di mana kemudian mereka tinggal selama 17 tahun di Ambon dan Semarang). Van Deventer merupakan rekan dari Bupati Jepara dan pada tahun 1881, dalam kunjungannya ke rumah Bupati, ia bertemu putri bupati yang berusia 12 tahun R.A. Kartini.

17 tahun kemudian yaitu pada tahun 1897, Coen dan Betsy kembali ke Belanda. Dua tahun setelahnya (1899), van Deventer menerbitkan artikel yang berjudul ‘Een eereschuld’ (‘utang kehormatan’) dalam jurnal De Gids. Dia berargumen bahwa Belanda memiliki kewajiban moral untuk kembali ke Indonesia atas banyak hal yang telah diambil dalam masa penjajahan, yaitu dengan melakukan investasi berskala besar untuk kesejahteraan rakyat Indonesia. Van Deventer sendiri telah mengabdikan sisa kehidupannya pada isu kebijakan kolonial dan menjadi juru bicara utama untuk 'Politik Etis'. Pada tahun 1905, ia terpilih sebagai Anggota Parlemen Belanda, di mana ia secara konsisten menyuarakan penyediaan pendidikan yang lebih banyak dan lebih baik, irigasi, fasilitas kredit, jalan dan kereta api, emigrasi dari Jawa ke Sumatera, dan peraturan untuk memerangi kecanduan opium.

Pada tahun 1912, tak lama setelah terpilih menjadi Senat Belanda, Coen dan Betsy berkunjung kembali ke Indonesia. Kunjungan ini menegaskan impresi mereka bahwa kebijakan kolonial baru berbuat sedikit sekali untuk memajukan pendidikan, dengan hanya sekitar 5 persen dari anak-anak Indonesia (dan hampir tidak ada perempuan) yang memiliki akses ke pendidikan formal. Sebenarnya, Coen dan Betsy telah sangat dipengaruhi oleh surat-surat Kartini. Dalam beberapa tahun, Coen, Betsy, serta teman-teman mereka mengumpulkan dana untuk membangun empat yayasan baru: Yayasan Kartini, Yayasan Van Deventer, Yayasan Tjandi dan Yayasan Max Havelaar, empat yayasan yang kemudian dimasukkan ke dalam Van Deventer-Maas Stichting yang semuanya bertujuan untuk mempromosikan pendidikan Indonesia. Setelah kematian Van Deventer pada tahun 1915, teman-temannya dan Betsy Maas mendirikan Yayasan Van Deventer untuk menyediakan sekolah menengah untuk perempuan Indonesia.

Adapun Yayasan Max Havelaar dan Yayasan Tjandi pada saat itu memberikan dukungan berupa pinjaman bebas bunga untuk sebagian kecil mahasiswa muda Indonesia untuk belajar di Belanda. Tidak sedikit lulusan dari pendidikan Belanda di awal abad 20, yang menduduki posisi yang cukup berpengaruh di masyarakat kolonial dan di Republik Indonesia setelah kemerdekaan.Sementara itu, Yayasan Kartini, Yayasan Van Deventer, serta empat belas sekolah yang mereka sponsori, telah membuat perbedaan dalam kehidupan banyak perempuan muda dan wanita Indonesia – sejumlah ribuan pada periode 1913-1942. Pada akhir tahun 1930-an, 7 Sekolah Kartini mengikutkan sekitar 1500 anak setiap tahun (kebanyakan dari mereka berlatar belakang sosial relatif sederhana) untuk pendidikan yang baik, namun kegiatan mereka terhenti dengan adanya pendudukan Jerman atas Belanda pada tahun 1940 dan pendudukan Jepang atas Hindia Belanda pada tahun 1942.

Meskipun tidak pernah mengunjungi Indonesia setelah kematian suaminya, Betsy Maas memiliki ketertarikan personal terhadap sekolah-sekolah Kartini dan Van Deventer. Dia menyumbangkan uang kepada mereka, disalurkan selama lebih dari 20 tahun ke Dewan Yayasan Van Deventer, dan terus berhubungan melalui pos dengan guru, murid dan alumni dari Sekolah Van Deventer. Setiap siswa yang lulus menerima surat ucapan selamat dan pensil perak sebagai hadiah pribadi dari Betsy Maas.

Betsy Maas kemudian meninggal pada tahun 1942 di usia 84 tahun dan menjanda selama 25 tahun. Karena Coen dan Betsy Maas tidak memiliki anak, Betsy Maas meninggalkan sebagian besar kekayaan yang cukup baginya untuk mendirikan sebuah yayasan baru, Yayasan Van Deventer-Maas yang memiliki tujuan utama 'untuk meningkatkan penyediaan pendidikan, dan pengembangan serta pendidikan Indonesia, khususnya pendidikan untuk perempuan Indonesia’. Lebih dari 60 tahun setelah kematian Betsy Maas, VDMS terus menggunakan pendapatan dana hibah ini untuk mempromosikan cita-cita R.A. Kartini, Coen Van Deventer dan Betsy Maas, sesuai dengan keinginannya.

Van Deventer-Maas Stichting secara resmi didirikan pada bulan April 1947, dan sejak awal telah mendukung aktivitas dan proyek yang bermanfaat, meksipun masih berantakan. Hal ini dapat dimengerti karena situasi Indonesia yang baru merdeka dan baru pulih dari dua dekade ‘Great Depression’ yang sulit di tahun 1930-an, pendudukan Jepang, dan perang kemerdekaan. Semua jenis lembaga dan individu yang membutuhkan bantuan, dan sumber-sumber resmi dukungan, kelembagaan (baik pemerintah, program bantuan bilateral atau multilateral atau oleh yayasan besar seperti Ford dan Rockefeller) mulai ikut bermain. Pada tahun 1979, Yayasan Tjandi dan Yayasan Van Deventer digabung menjadi yayasan Van Deventer-Maas, seperti yang telah dilakukan sebelumnya dengan Yayasan Kartini.

Pada 1980-an dan 1990-an yayasan ini melihat kembali fokus kegiatan VDMS, yakni untuk kembali lebih dekat ke misi dasar mendukung pendidikan Indonesia. Perubahan penting lainnya adalah pergeseran dalam ketentuan beasiswa dari Belanda ke Indonesia, karena kualitas ketersediaan pendidikan tinggi di Indonesia ditingkatkan.

Saat ini VDMS menyediakan sekitar 800 beasiswa setiap tahun untuk muda-mudi Indonesia yang berbakat dari latar belakang keluarga sederhana, di 35 universitas, perguruan tinggi dan satu sekolah menengah. VDMS juga menyediakan kursus singkat kepada penerima beasiswa untuk meningkatkan soft skill mereka (yaitu kemampuan pribadi, sosial dan intelektual) dan kemungkinan masuk ke pasar kerja. Sesuai dengan undang-undang VDMS dan cita-cita Betsy Maas, dalam beberapa tahun terakhir, wanita telah menjadi 68 persen penerima dari semua penghargaan beasiswa VDMS.Dewan VDMS di Belanda melihat adanya pengelolaan yang baik dari aset dan pendapatan yayasan, memutuskan adanya perubahan dalam strategi dan kebijakan yayasan, dan menyetujui anggaran dan rekening tahunan. Kantor Indonesia memiliki tugas untuk melaksanakan kebijakan yayasan (program beasiswa, proyek pembangunan kapasitas dan pelatihan, hubungan alumni dll) di Indonesia. Pada tahun 2017 direncanakan untuk membangun Yayasan Indonesia yang baru, Yayasan Van Deventer-Maas Indonesia, dengan lembaga eksekutif sendiri dan Dewan Penasehat.